Semua orang tahu perasaan marah (yang tak terkendali), cemas, khawatir,stress dan sejenisnya bukan sekedar tidak bermanfaat, lebih dari itu kebiasaan marah-marah,
seperti juga kebiasaan cemas, khawatir yang berlebihan menimbulkan bahaya
serius bagi kesehatan fisik maupun jiwa (kalau ga percaya googling aja sendiri yeee),
tetapi kenapa kita cenderung larut dalam khwatir, marah, tertekan sakit hati dsb ?


kencenderungan dari manusia, kalau sesuatu itu enak, bisa mendatangkan kenikmatan
secara instan, maka kita akan mengulanginya kembali walaupun tahu
bahwa ada efek samping tidak menyenangkan bahkan bisa jadi berbahaya dibelakangnya.
bayangan kenikmatan yang muncul bisa mengalahkan akal sehat.


Bagi para penggemar masakan pedas seperti saya, walaupun tahu efek sampingnya adalah bibir serasa terbakar hebat (kondisi yang sangat menyiksa sebenarnya) tapi tetep, kalau makan tanpa menggunakan sambal hampa terasa. rasa nikmat yang muncul dari sambal mengalahkan akal sehatku yang mengatakan "jangan makan sambal nanti panas bibirnya, nanti mencret, nanti sakit ……

Semua perokok tahu merokok merugikan kesehatan, tetapi kenapa mereka tetap merokok ?
tentu saja jawabannya tentu saja karena merokok enak.

kalau sesuatu itu enak maka manusia cenderung mengulanginya.
Jadi pertanyaannya sekarang kenapa kita harus marah ? harus cemas ? harus sakit hati
harus merana ? …

jawabannya tentu saja sederhana, karena perasaan marah, cemas, stres, khawatir, tertekan itu enak.

kalau saja stres tidak enak tentu saja kita tidak akan mau larut di dalamnya.Tidak pernah ada masalah yang selesai dengan stres, masalah selesai jika kita menyelesaikannya bukan mencemaskannya.

ketika seseorang melukai ego kita, dan membuat kita merasa sakit hati, sakit hati yang dialami tidak akan membuat orang yang melukai ego kita itu akan ikutan sakit,sakit hati kita tidak akan menjelma menjadi kekuatan dashyat yg menyerang orang yg bersangkutan.

Jadi pada dasarnya kita menikmati marah, sakit hati, cemas, stress, meratapi diri karena
semua itu enak, kita semua tahu itu menyiksa, tetapi karena enak dan kita menyukainya tentu kita akan memilih marah dan sakit hati daripada berpikir kenapa harus marah atau sakit hati, kita memilih tertekan dengan tugas yang menumpuk daripada mencoba menyelesaikannya semampu kita dengan tenang.

Hanya saja kita tidak mau mengakui kalau kita menikmati marah, menikmati sakit hati, 
menyukai meratapi diri.

Yang tidak enak itu berpikir, berpikir kenapa harus marah, berpikir kenapa harus sakit hati, berpikir kenapa harus stress.

males !!, mikir itu capek!, ngapain sih capek-capek mikir.